🎭 Naskah Pantomim: “Napas Terakhir Pohon Tua”
Tema: Lingkungan hidup / Penebangan pohon
Durasi: ±7 menit
Pemain:
-
1 Pohon Tua
-
2 Hewan kecil (misal: burung & kelinci)
-
2 Penebang pohon
Properti:
-
Selendang hijau (daun/pohon)
-
Kain coklat (batang pohon)
-
Kapak mainan atau karton
-
Bibit tanaman kecil (simbol harapan)
-
Musik latar (hutan, gergaji, hujan, lembut/haru)
Adegan 1 – Kehidupan di Hutan (Durasi: 1 menit)
Musik: suara alam – burung berkicau, angin berdesir
Gerakan:
-
Pohon Tua berdiri tegak di tengah panggung, tangan menjulang seperti dahan.
-
Burung berputar di sekitar pohon, mengepakkan tangan seolah sayap, hinggap di “ranting”.
-
Kelinci berlari-lari kecil di sekitar, mengendus, bermain, lalu bersandar di bawah pohon.
-
Semua menampilkan ekspresi bahagia dan damai.
👉 Makna: Alam yang subur dan penuh kehidupan.
Adegan 2 – Datangnya Manusia (Durasi: 1 menit)
Musik: langkah berat dan suara alat (kapak/gergaji pelan)
Gerakan:
-
Dua penebang masuk dengan langkah tegap, memeriksa sekitar, lalu menunjuk pohon tua.
-
Mereka mengukur, berpura-pura mencatat, lalu bersiap menebang.
-
Hewan-hewan menunjukkan ekspresi cemas, mencoba menghalangi dengan tubuh mereka.
-
Pohon Tua menunduk perlahan, menggambarkan ketakutan.
👉 Makna: Manusia mulai menguasai alam tanpa rasa peduli.
Adegan 3 – Penebangan Pohon (Durasi: 2 menit)
Musik: suara kapak dan gergaji makin keras
Gerakan:
-
Penebang mengayunkan kapak ke arah pohon (tanpa benar-benar mengenai pemain).
-
Pohon Tua perlahan gemetar, goyah, dan akhirnya “tumbang” perlahan ke arah samping.
-
Hewan-hewan menjerit (tanpa suara, hanya gestur), mencoba menahan, lalu jatuh berlutut sedih.
-
Penebang menunjukkan ekspresi puas, saling memberi isyarat “berhasil”.
👉 Makna: Alam hancur akibat keserakahan manusia.
Adegan 4 – Penyesalan (Durasi: 1,5 menit)
Musik: senyap, kemudian pelan dan sendu
Gerakan:
-
Penebang melihat sekeliling: tanah gersang, hewan pergi, udara panas.
-
Salah satu penebang memegang batang pohon yang tumbang, terlihat menyesal.
-
Ia memegang dada, menunduk, meneteskan air mata (ekspresi sedih).
-
Ia kemudian berlutut dan menggali tanah kecil dengan tangan.
-
Ia menanam bibit pohon kecil di sana.
👉 Makna: Kesadaran dan penyesalan manusia atas kerusakan alam.
Adegan 5 – Harapan Baru (Durasi: 1,5 menit)
Musik: lembut dan penuh harapan (suara burung kembali, angin sepoi)
Gerakan:
-
Bibit pohon tumbuh (bisa diperankan oleh pemain dengan selendang hijau yang perlahan berdiri).
-
Penebang tersenyum, menatap ke atas dengan tangan terbuka.
-
Hewan-hewan kembali, menari kecil di sekitar bibit pohon.
-
Semua pemain bergandengan tangan menghadap penonton, menunduk perlahan.
👉 Makna: Alam bisa pulih jika manusia mau memperbaiki kesalahan dan menanam kembali kehidupan.
Penutup:
Semua pemain berbaris, menaruh tangan di dada dan menunjuk ke arah “bumi” (lantai), menandakan janji menjaga lingkungan.
Layar/teks penutup di belakang (bisa ditulis di papan):
“Alam bukan warisan dari nenek moyang, tetapi titipan untuk anak cucu.”
Comments
Post a Comment